Di Balik Angka Kemiskinan

Seperti biasa, 'orang-orang' di otak gua sedang melakukan suatu percakapan intens. Padahal kondisi gua udah ngantuk dan ntar pagi harus bangun cepat.

Oke, langsung ke topiknya aja. Akhir akhir ini, pembahasan tentang ekonomi Indonesia, khususnya Angka Kemiskinan dan Gini Ratio yang dirilis Badan Pusat Statistik di awal tahun ini lagi panas panasnya diomongin di sosmed. Intinya adalah banyak masyarakat yang gak percaya dengan angka yang dikeluarkan dimana angkanya menurun dari Maret 2017 ke September 2017. Tentunya, ketidakpercayaan itu juga diiringi dengan respon yang ngata-ngatain BPS dengan, you know lah bahasa warganet. Bahkan, di salah satu postingan akun instagram yang gua baca, komentar-komentar pedas  meluncur kepada pemerintah dimana tujuan utamanya adalah BPS.

Well, gua sendiri, sebagai anak didik STIS yang secara di bawah naungan BPS, punya sedikit banyak rasa tidak terima. Rekan se-almamater gua juga banyak yang gitu. Bahkan gak sedikit yang ngeladeni warganet di kolom komentar, yang yaaa cukup bikin ngelus dada. Respon gua paling alus yaa "Mereka gak tau. Pantes bilang gitu." Selain juga respon cenderung keras atas nama instansi dan almamater. Cuma untuk yang itu cukup disimpan dalam hati aja hehe.

Tapi, ngebiarin mereka juga berkutat dengan ketidaktahuan tentang angka-angka yang dirilis BPS juga tidak baik. Memang sih kalo gua ngeposisiin kaya mereka sebagai kaum awam tentang statistik, wajar aja mereka berkomentar kaya gitu. Untuk itu, emang salah satu PR besarnya BPS adalah memasyarakatkan statistik. Angka-angka yang dirilis tentunya gak simsalabim tiba-tiba muncul. Ada prosedur. Ada maknanya. Ada konsep defenisinya. Ada konteksnya. Cuma ya, namanya juga manusia dan memang rada perlu usaha untuk ngejelasinnya.

Misalnya, darimana penentuan besaran garis kemiskinan sebagai pembatas kaum manusia dikatakan miskin di Indonesia itu ada prosedurnya. Panjanggggg malah prosedurnya. Sedikit penjelasan aja, BPS make Survei Sosial Ekonomi Nasional dimana dalam survei itu, penghitungannya make pengeluaran perkapita dimana kadang terjadi misleading dengan pendapatan perkapita. Nah, itupun ada prosedurnya. Mulai dari tingkat kecamatan hingga nasional. Bla bla bla dan bla. Kalau mau belajar silakan. Manatau gua bisa bantu sedikit sedikit, terutama kamu. Iya, kamu yang cantik di sana (mudah-mudahan cewe yang baca sih ya hahaha). Dan konsep definisi yang dipakai BPS itu juga telah diperhitungkan sedemikian rupa supaya data yang dihasilkan tetap dapat dibandingkan naik turunnya dari waktu ke waktu.

Komunikasi emang penting sih ya, terutama untuk ngejelasin hal-hal sensitif macam ini. Dan ya emang warganet Indonesia lagi sensi sensinya akhir akhir ini. Eh iya gak sih? Hahaha. Di sisi lain, data BPS juga tidak bisa 100% dipercayai, karena angka segitu hanya untuk Tuhan. Namanya juga statistik, penuh dengan error, sebagaimana manusia. Cuma yaa, Tuhan begitu baiknya menganugrahkan akal pikiran supaya kita manusia, khususnya orang-orang di BPS, untuk meminimkan error. Atau dalam arti lain makin meningkatkan kualitas data. Data BPS bukan hasil dewa. Kritik boleh, tapi ya usahakan yang membangun dong, mz, mba. BPS dan cilik-ciliknya ya juga terbuka dengan kritik. Dan percayalah kalian wahai orang-orang non-BPS, kaum penghasil official data di Indonesia ini juga pengen semakin baik kok. Semuanya tujuannya baik biar kehidupan orang-orang makin positif dan semakin positif lagi.


"Angka-angka itu mesti di-asik'in biar hasilnya juga asik dan semua akan makin asik. Dan makin banyak yang bahagia. Ya gak?"
"Gak ngerti? Ayo ngobrol-ngobrol sambil ngopi dulu. Atau ayo kuliah di STIS biar kamu makin ngerti lagi. Kan enak kalo udah tau. Hehe."

Komentar

  1. 카지노 카지노 gioco digitale gioco digitale 카지노 카지노 betway betway bet365 bet365 bk8 bk8 바카라사이트 바카라사이트 메리트카지노 메리트카지노 카지노 카지노 403

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inilah Magradikaku, Awal Dari Kampusku

Kangen

Natal 2016