Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

In The End

Gambar
Bukan. Gue bukan mau ngebicarain soal lagu Linkin Park yang dulu ada sebelum generasi Millenial tumbuh kayak sekarang ini. Jadi, lagi pengen ngebahas tentang "Akhir". Everybody knew you're liar. Damn, bukan itu. Everybody knew semua yg ada di dunia ini gak ada yang abadi, semua memiliki akhir. Wait, kalian pasti mikirnya gue bakal nyinggung lagu Peterpan. Hahaha. Yaa nggalah. Cukup 3gpnya mas Ariel aja yang dulu disinggung. Iya, 3gp video klip lagunya utk diplay di HP Nokia Ngage yang melegenda itu. HAHA! Kampret dah. Kebiasaan kalo nulis gagal fokus gini. Oke, tadi rencana ngebahas akhir yak. Serius deh serius. Semua hal di dunia ini memang pada akhirnya mencapai akhir. Mz Gaga dan Mba Awkarin aja yang ngalah-ngalahin Mr. and Mrs. Smith hubungan asmaranya udah berakhir. Makanya si pemeran Mr. and Mrs. Smith juga ikut-ikutan mengambil jalan akhir dari kisah rumah tangga mereka. Dan kemudian para generasi Millenial dan generasi 90an yg ngefans dengan 2 pasangan ini juga ...

Kangen

So, mulai dari mana kali ini? Udah lama ngga nulis, seperti sulit untuk memulai ini kembali. Tapi kalo ngeliat judulnya pasti rada gimana gitu. Kangen, satu kata yang maknanya juga satu menurut KBBI. "Ingin sekali bertemu", begitu maknanya. Memang ada saatnya ketika lo tiba tiba merasa kangen akan sesuatu, kangen akan suasana, kangen akan orang, atau kangen kangen dalam bentuk lainnya. Hujan. Salah satu penyebab kangen itu datang kembali. Ya, memang hujan dimanapun dan kapanpun memang sama. Baik efek ke hidung melalui baunya yang khas, maupun udara dingin yang cenderung menyampaikan kenyamanan pada orang yang merasakannya. Bukan cuma itu, bunyi gemericik hujan juga selalu sama, menenangkan dan juga ngebikin kangen. Awan hitam sebelum hujan, angin kencang yang terkadang mengiringi dan membuat sudut kemiringan sang hujan sedikit berubah ubah, malah terkadang tetap menyentuh lembut kulit walau sudah berteduh saat dia datang, bahkan pelangi yang juga kadang muncul sering menamb...

Cerita di Balik Hujan

Gambar
Siang itu gue, sepulang ngampus, yang cuma sesi 1 di hari Senin. Iya, hari Senin, sesi 1, artinya gue harus bangun pagi, di hari Senin. Iya, Senin, Monday, Monster Day. Huh. Oke maafkan atas curcol colongan barusan. Saat itu hujan dan kebetulan gue lagi flu. Ya lo tau lah kondisinya flu. Gue mesti nyeruput sesuatu yang keluar dari hidung gue. Bukan, bukan anus. Eh maaf typo. Bukan ingus, tapi ini cairan cair yang strukturnya sebenernya ga sekental ingus. Gue sendiri gatau cairan ngeselin ini apa namanya tapi yang pasti cairan naik turun di dalam lobang hidung gue. Iya, beneran naik turun. Yaaa 11 12 lah sama hubungan dengan gebetan. Kadang naik deket deketnya, kadang turun menjauh. Oke maafkan lagi atas curbongrokcol (curhat bohong dan jorok colongan) ini. HA! Oke balik ke topik pembicaraan. Eh tunggu, kita emang lagi berbicara. Lah kan berbicara itu mulut ke mulut (ambigu sih ini wkwkwk). Sementara gue gatau ekspresi lo gimana, tapi yang pasti gue mungkin tau isi hati lo asalkan kit...

Apa sih?

Gue punya temen. Kali ini beneran temen, bukan kaya yg sebelum-sebelumnya temen-temenan yang hubungannya ga kaya temen tapi cuma dianggap temen *jleb*. Temen gue ini namanya Citra. Dia cewek, karna kalo cowok namanya Citro (HA HA! Kuraaaang!!!). Dia ini orangnya seneng bercanda. Bercanda sama temennya, mantannya, mantannya mantan gebetannya, kuda nil peliharaannya. Yaa pokoknya gitu deh. Cuma terkadang bercandaannya itu lebih renyah dari peyek kutil kuda. *Di suatu siang yang panas ditambah aroma ketek basah iron man yang lagi ngecabutin bulu kaki wonderwomen* Citra: Eh tau, ga sih gue barusan makan coklat platinumking Temennya Citra: Ya terus apaan? Citra: Ternyata rasa coklat itu manis loh Temennya Citra: Apa sih? Apaan? *dengan tatapan sinis dan tajam setajam kuku komodo* Citra: Ih kan ah. Kok lu gitu? Gue kan becanda Citra kemudian langsung pergi meninggalkan temennya itu. Mungkin dia mencari cari korban lain. Eh ternyata dugaan gue salah. Dia malah dateng ke gue yang lagi...

Tentang Memberi

Aku adalah tipe orang yg sangat menghindari memberi sesuatu kepada pengemis. Gatau ya hal yang terpikirkan di awal adalah aku ngga mau menjadikan para pengemis itu seorang peminta yang manja tanpa harus berusaha. Yaa walaupun sebenernya tergantung kondisi si pengemisnya itusih, apalagi kalau dia itu orang yang masih sehat dan malah keliatan masih punya kemampuan untuk bekerja, tapi malah lebih memilih meminta-minta. Yaa emang sih kalo kata orang kalo mau memberi yaa beri aja, masa iya mikir mikir. Cuma ya itu, konsep kerja keras harus tetap dipegang dan diterapkan. Mungkin juga orang berpikir "Apalah arti uang kecil yang dikasih itu." Tapi balik lagi, memberi ke orang seperti kondisi yang ku bilang itu menurutku kuranglah tepat. Memberi itu baik, namun alangkah lebih baik lagi jika memberi ke orang yang tepat dengan tetap menjaga pola pemikiran dan perilaku masyarakat supaya tidak "manja" dengan pemberian tanpa usaha. Lagian, banyak kok cara kita memberi menolong...

Teri Medan, Sebuah Ikatan dan Sebuah Harapan

Ikan teri ini adalah sesuatu yg berharga buatku karna ini adalah buatan mamaku. Ya, sebenarnya biasa saja. Tapi akan menjadi tak biasa ketika ikan teri ini juga merupakan pengingat sekaligus "rasa dari rumah" yang ga langsung hilang. Begitulah, ketika kau nyaman pada suatu kondisi, kau tak akan rela untuk meninggalkannya. Namun, hidup ini adalah soal perpindahan bukan? Setiap hari, setiap jam, bahkan mungkin setiap saat kita berpindah, baik dalam bentuk tubuh kita keseluruhan ataupun sel-sel yang membentuknya. Balik lagi soal ikan teri. Mungkin sebagian orang berpikir "Apasih istimewanya ikan teri itu? Toh juga banyak kan yg ngejualnya gitu di warung-warung makan ataupun restoran-restoran tradisional ternama yg bahkan lebih enak." Ini bukan cuma soal rasa, tapi juga soal ikatan. "Lah kenapa bisa sampai ikatan?" Terkadang, aku berpikir, kita gak bisa mendefinisikan ikatan seseorang dgn yg lainnya secara utuh, kecuali orang itu sendiri (dan Tuhan) yang ...