Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2018

Dibalik Diam (2)

Gambar
Aku pernah bercerita mengenai orang yang sering memilih diam. Bacaannya ada  di sini . Menurutku, beberapa dari mereka hanya terlihat diam dalam suara, tapi tidak di dalam pikiran dan hati. Mereka seringkali memilih diam. Bukan karena tak bisa mengungkapkan. Bukan juga karena mereka tak bisa melakukan apa-apa ataupun tak didengarkan. Namun ya hanya memilih diam. Itu pilihan mereka. Pernah suatu hari, aku menjadi berada di posisi mereka sementara mereka melakukan apa yang jadi kebalikan dari apa yang selama ini ku lihat. Mereka berbicara, banyak, sangat banyak. Dan percayalah, ketika mereka sangat banyak bicara dalam keadaan personal, itu bermakna dalam. Terasa. Intinya adalah yang kutangkap adalah salah satu alasan terbesar di balik diamnya mereka adalah "Udahlah, biarlah aku aja yang ngerjain, biarlah aku aja yang nanggung, daripada mereka. Daripada jadi makin ribut sana-sini." Mungkin begitu kira-kira gumam mereka yang sering diam. Oh ya, sebenernya aku l...

Di Balik Angka Kemiskinan

Gambar
Seperti biasa, 'orang-orang' di otak gua sedang melakukan suatu percakapan intens. Padahal kondisi gua udah ngantuk dan ntar pagi harus bangun cepat. Oke, langsung ke topiknya aja. Akhir akhir ini, pembahasan tentang ekonomi Indonesia, khususnya Angka Kemiskinan dan Gini Ratio yang dirilis Badan Pusat Statistik di awal tahun ini lagi panas panasnya diomongin di sosmed. Intinya adalah banyak masyarakat yang gak percaya dengan angka yang dikeluarkan dimana angkanya menurun dari Maret 2017 ke September 2017. Tentunya, ketidakpercayaan itu juga diiringi dengan respon yang ngata-ngatain  BPS dengan, you know lah bahasa warganet. Bahkan, di salah satu postingan akun instagram yang gua baca, komentar-komentar pedas  meluncur kepada pemerintah dimana tujuan utamanya adalah BPS. Well, gua sendiri, sebagai anak didik STIS yang secara di bawah naungan BPS, punya sedikit banyak rasa tidak terima. Rekan se-almamater gua juga banyak yang gitu. Bahkan gak sedikit yang ngeladeni war...

Heading to Jakarta

Gambar
Jadi gini. Gua kan bilang  di post sebelumnya  kalo gua tengah malam ini (atau lebih tepatnya udah dinihari) balik ke Jakarta setelah bernatal dan tahun baru di Medan. Nah, naasnya adalah pesawat gua kena delay 2 jam. Padahal udah penerbangan paling akhir dari KNO ke CGK. Sederhana aja. Jadi, sebagai kompensasinya pihak maskapai ngasih makan berat nasi kotak. A little bit suprised to me sebagai kalangan bawah yang cuma bisa naik pesawat low fare (ya walaupun harganya nauzubillah karena lagi peak season). At least better-lah dari si singa yang udah delay berjam-jam cuma dapat snack. Dan ya pihak maskapai yang satu ini (salah satu kerajaan di Indonesia) bener-bener mengimplementasikan prinsip 'negara ketiga' yang notabene Indonesia termasuk di dalamnya. "Perut kenyang, emosi pun lebih bisa terkontrol." Ada benernya sih hahaha. NB. Padahal makan tengah malam gini sangat baik untuk membuncitkan perut. Ya dalam hati cuma bisa berkata "BODO AMAT. Gu...

Dibalik Diam

Gambar
Di sela-sela pagi gua, pagi terakhir di kota Medan sebelum balik ke Jakarta nanti malam, gua kembali ngerasain diri gua dalam bentuk imajiner berbicara sendiri di dalam otak. Aku diam, namun pikiranku tak diam sedang berbicara mengenai orang-orang yang sering diam meski sebenernya gua meyakini orang itu sesungguhnya tak sedang diam. Gua mengimani gua adalah seorang ambivert , dengan kadar ekstrovert 55% dan introvert 45%. Tanpa data, tanpa pengukuran, hanya keyakinan. Gak penting kan? Bodo amat hahaha. Tapi sebenernya itu sedikit intro buat apa dari isi pemikiran gua kali ini. Sisi ekstrovert gua seringkali heran ngeliat orang-orang yang kaya gua omongin di atas, yang sering diam dalam hari-harinya. Di sisi lain, ke-introvert-an gua sedikit banyak ngerti maksud dari mereka. Balik lagi, itu keyakinan gua tentang diri gua sendiri. "Bagaimana bisa mereka cuma diam sementara mereka sebenernya bisa ngungkapin buat orang lain?" Itu pertanyaan yang sering muncul dalam pikir...

Bahagia yang Sederhana

Gambar
Terakhir kali gua ngepost di blog ini isinya kegalauan soal bisa pulang apa ngga. Dan puji Tuhan, ternyata gua bisa pulang. Bermodalkan tiket mahal, 2 hari cuti dan sisanya TK, gua pun memutuskan pulang ke rumah di Medan hahaha, tepatnya tanggal 22 Desember kemaren. Tapi apalah artinya semua itu, ye gak? Nyampe di Medan dengan keadaan masih pake baju kantor (karena memang udah bawa koper ke kantor biar langsung berangkat ke bandara). Kenapa harus tanggal 22? Karna di situ ada ibadah natal kaum ibu di gereja gua, which is mamak ikut juga. Selama pulang pun gua bener bener mengimplementasikan tujuan pulang gua, yaitu RUMAH. Merasakan lagi semua suasana rumah, mulai dari yang senang-senang, sampe direpetin sama mamak ataupun begadoh sama adek adek hahaha. Bukannya gua ga mau keluar rumah atau gimana, tapi tujuan gua pulang ya adalah karena RUMAH. Kalopun keluar, barengannya sama orang RUMAH. Pemikiran gua sederhana aja dan bahagianya gua sederhana aja. Menikmati momen natal, gere...