Postingan

Menghitung Bulir-bulir Beras

Gambar
Masyarakat Indonesia sangat bergantung dengan beras. Sebab dari dulu hingga sekarang, hasil dari tanaman padi ini memang jadi bahan makanan utama orang-orang di negeri ini. Waktu kecil, orangtua saya akan marah besar apabila saya terlalu banyak jajan dan membuat saya tidak makan nasi. Sampai-sampai, ada ungkapan di masyarakat “belum makan namanya kalau belum makan nasi”. Saya juga jadi ingat ketika masa ngekos , bukan hal yang jarang saya makan mi instan pake nasi. Saking mengerikannya keuangan anak kos-kosan heuheu. Padahal kan keduanya sama-sama mengandung banyak karbohidrat. “Tapi tak apalah, yang penting kenyang dan yang penting bisa makan kalau sudah makan nasi.”, gumam saya dulu. Beras juga jadi komoditas yang penting di kalangan emak-emak . Mereka harus pintar-pintar mengelola keuangan untuk menyediakan nasi untuk keluarganya. Jika harga naik, tambahlah pikiran mereka. Kan kasihan :(( Memang komoditas satu ini jadi perhatian besar oleh setiap pemerintahan di Indones...

Membedah Fenomena di Balik Kenaikan Angka Kemiskinan NTT

Gambar
Oleh: Marthin Fernandes Sinaga, SST. (ASN Badan Pusat Statistik Kab. Sumba Timur) Tulisan ini dimuat dalam Pos Kupang, Selasa, 30 Juli 2019 Kemiskinan merupakan sebuah permasalahan kompleks yang menjadi pekerjaan besar untuk banyak negara, khususnya negara berkembang. Permasalahan satu ini juga menjadi salah satu fokus setiap pemerintahan dan menjadi indikator penting dalam pengambilan kebijakan. Di Indonesia, lembaga penyedia statistik resmi, Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan konsep kebutuhan dasar ( basic need approach ) untuk mengukur tingkat kemiskinan. Konsep ini telah digunakan sejak tahun 1998 agar hasil perhitungan konsisten dan dapat dibandingkan dari waktu ke waktu. Pendekatan menggunakan konsep ini juga memandang kemiskinan sebagai ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang kemudian diukur dengan Garis Kemiskinan. Tingkat Kemiskinan di Nusa Tenggara Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi salah satu prov...

Ngapain Sih Masih Mau Jadi PeeNes?

Gambar
Beberapa hari yang lalu adalah waktu-waktu pengumuman hasil akhir seleksi CPNS 2018. Ada yang lulus, ada yang gak lulus, dan bakal tetap ada yang nyinyir soal orang jadi PeeNeS. Maklum sih netizen dengan segala budinya. Mulai dari bilang buang-buang anggaran sampai ngomong kerjaannya gak ada tapi fulus jalan terus. Lagian, emang kenapa sih kalo ada orang yang memutuskan dirinya untuk di pekerjaan ini? Heuheu. Padahal ya, banyak alasan orang-orang seperti kami ini memilih untuk menjadi Aparatur Sipil Negara. Kami Ingin yang Pasti-Pasti Aja Ada banyak  orang yang emang berani untuk bisnis buka usaha ataupun berani untuk jadi freelancer kerja ini itu karena gak suka kehidupannya ketat oleh aturan. Tapi mylov, gak sedikit juga manusia yang ditakdirkan agak medioker dalam hidupnya dan gak berani ambil resiko. Nah, itulah hal yang mungkin dirasakan oleh beberapa dari kami yang PNS. Gak apalah terikat sama aturan instansi, yang penting pasti dapat pendapatan bulanan dan pensi...

Dibalik Diam (2)

Gambar
Aku pernah bercerita mengenai orang yang sering memilih diam. Bacaannya ada  di sini . Menurutku, beberapa dari mereka hanya terlihat diam dalam suara, tapi tidak di dalam pikiran dan hati. Mereka seringkali memilih diam. Bukan karena tak bisa mengungkapkan. Bukan juga karena mereka tak bisa melakukan apa-apa ataupun tak didengarkan. Namun ya hanya memilih diam. Itu pilihan mereka. Pernah suatu hari, aku menjadi berada di posisi mereka sementara mereka melakukan apa yang jadi kebalikan dari apa yang selama ini ku lihat. Mereka berbicara, banyak, sangat banyak. Dan percayalah, ketika mereka sangat banyak bicara dalam keadaan personal, itu bermakna dalam. Terasa. Intinya adalah yang kutangkap adalah salah satu alasan terbesar di balik diamnya mereka adalah "Udahlah, biarlah aku aja yang ngerjain, biarlah aku aja yang nanggung, daripada mereka. Daripada jadi makin ribut sana-sini." Mungkin begitu kira-kira gumam mereka yang sering diam. Oh ya, sebenernya aku l...

Di Balik Angka Kemiskinan

Gambar
Seperti biasa, 'orang-orang' di otak gua sedang melakukan suatu percakapan intens. Padahal kondisi gua udah ngantuk dan ntar pagi harus bangun cepat. Oke, langsung ke topiknya aja. Akhir akhir ini, pembahasan tentang ekonomi Indonesia, khususnya Angka Kemiskinan dan Gini Ratio yang dirilis Badan Pusat Statistik di awal tahun ini lagi panas panasnya diomongin di sosmed. Intinya adalah banyak masyarakat yang gak percaya dengan angka yang dikeluarkan dimana angkanya menurun dari Maret 2017 ke September 2017. Tentunya, ketidakpercayaan itu juga diiringi dengan respon yang ngata-ngatain  BPS dengan, you know lah bahasa warganet. Bahkan, di salah satu postingan akun instagram yang gua baca, komentar-komentar pedas  meluncur kepada pemerintah dimana tujuan utamanya adalah BPS. Well, gua sendiri, sebagai anak didik STIS yang secara di bawah naungan BPS, punya sedikit banyak rasa tidak terima. Rekan se-almamater gua juga banyak yang gitu. Bahkan gak sedikit yang ngeladeni war...

Heading to Jakarta

Gambar
Jadi gini. Gua kan bilang  di post sebelumnya  kalo gua tengah malam ini (atau lebih tepatnya udah dinihari) balik ke Jakarta setelah bernatal dan tahun baru di Medan. Nah, naasnya adalah pesawat gua kena delay 2 jam. Padahal udah penerbangan paling akhir dari KNO ke CGK. Sederhana aja. Jadi, sebagai kompensasinya pihak maskapai ngasih makan berat nasi kotak. A little bit suprised to me sebagai kalangan bawah yang cuma bisa naik pesawat low fare (ya walaupun harganya nauzubillah karena lagi peak season). At least better-lah dari si singa yang udah delay berjam-jam cuma dapat snack. Dan ya pihak maskapai yang satu ini (salah satu kerajaan di Indonesia) bener-bener mengimplementasikan prinsip 'negara ketiga' yang notabene Indonesia termasuk di dalamnya. "Perut kenyang, emosi pun lebih bisa terkontrol." Ada benernya sih hahaha. NB. Padahal makan tengah malam gini sangat baik untuk membuncitkan perut. Ya dalam hati cuma bisa berkata "BODO AMAT. Gu...

Dibalik Diam

Gambar
Di sela-sela pagi gua, pagi terakhir di kota Medan sebelum balik ke Jakarta nanti malam, gua kembali ngerasain diri gua dalam bentuk imajiner berbicara sendiri di dalam otak. Aku diam, namun pikiranku tak diam sedang berbicara mengenai orang-orang yang sering diam meski sebenernya gua meyakini orang itu sesungguhnya tak sedang diam. Gua mengimani gua adalah seorang ambivert , dengan kadar ekstrovert 55% dan introvert 45%. Tanpa data, tanpa pengukuran, hanya keyakinan. Gak penting kan? Bodo amat hahaha. Tapi sebenernya itu sedikit intro buat apa dari isi pemikiran gua kali ini. Sisi ekstrovert gua seringkali heran ngeliat orang-orang yang kaya gua omongin di atas, yang sering diam dalam hari-harinya. Di sisi lain, ke-introvert-an gua sedikit banyak ngerti maksud dari mereka. Balik lagi, itu keyakinan gua tentang diri gua sendiri. "Bagaimana bisa mereka cuma diam sementara mereka sebenernya bisa ngungkapin buat orang lain?" Itu pertanyaan yang sering muncul dalam pikir...