Dibalik Diam
Di sela-sela pagi gua, pagi terakhir di kota Medan sebelum balik ke Jakarta nanti malam, gua kembali ngerasain diri gua dalam bentuk imajiner berbicara sendiri di dalam otak. Aku diam, namun pikiranku tak diam sedang berbicara mengenai orang-orang yang sering diam meski sebenernya gua meyakini orang itu sesungguhnya tak sedang diam.
Gua mengimani gua adalah seorang ambivert, dengan kadar ekstrovert 55% dan introvert 45%. Tanpa data, tanpa pengukuran, hanya keyakinan. Gak penting kan? Bodo amat hahaha. Tapi sebenernya itu sedikit intro buat apa dari isi pemikiran gua kali ini. Sisi ekstrovert gua seringkali heran ngeliat orang-orang yang kaya gua omongin di atas, yang sering diam dalam hari-harinya. Di sisi lain, ke-introvert-an gua sedikit banyak ngerti maksud dari mereka. Balik lagi, itu keyakinan gua tentang diri gua sendiri.
"Bagaimana bisa mereka cuma diam sementara mereka sebenernya bisa ngungkapin buat orang lain?" Itu pertanyaan yang sering muncul dalam pikiran gua. Dan keheranan gua, kenapa mereka gak ngomong gituloh. Bagaimana bisa orang lain bisa tau kalo cuma diam? Cuma dalam diamnya gua terhadap sekitar, sebuah pemikiran muncul dalam pikiran gua.
Gua kurang setuju kutipan 'diam bukan pilihan'. Diam itu terkadang adalah pilihan, terutama ketika keadaan di luar diri begitu krasak-krusuk. Kadang juga seseorang diam ketika keadaan sekitar tidak memungkinkan dirinya lagi untuk ikutan "ribut" ataupun dirinya tidak didengar pada saat itu, hingga pada akhirnya diam menjadi pilihan. Catatannya adalah diam yang diam itu tidak baik. Diam tanpa ada refleksi, tanpa ada perhitungan ulang, apalagi jika diam yang memberontak. Diam yang kaya gitu sama aja bermakna kosong.
Mungkin lu yang ngebaca ini bakal mikir "Diam yang tidak bermakna kosong emang gimana? Bukankah diam itu ya diam? Kosong?" Nah, sekarang gua bilang gini, ketika kalian ngebaca ini, kalian diam kan? Lebih tepatnya diam terhadap sekitar. Tapi apakah kalian diam terhadap diri sendiri? Ngga kan? Paling ngga ada suara imajiner yang ada di pikiran kalian yang seakan berbicara dan mengatakan setiap kata yang ada di tulisan ini. Ya gak sih?
Kadang sih ya, kita perlu juga belajar merhatiin orang-orang yang sering diam. Dan yaa dunia ini ribut, krasak-krusuk, penuh suara, bahkan pikiran kita juga sering begitu, bukan? Pertanyaannya, berkenankah kita sejenak diam? Tentunya diam yang tidak diam. Ku harap kau mengerti maksudku hehe.
NB. Tapi ya jangan diam terus-terusan juga dong. Besok masuk kerja soalnya. H H H!

Komentar
Posting Komentar