Natal 2016

Di suatu pagi, gue iseng buka blog gue dan baru nyadar ternyata udah lumayan lama gue ga ngepost. Maklum, rada (sok) sibuk heuheu. Sebenernya gue sempat nulis panjang di facebook gue. Terus karena lagi ga ada bahan untuk nulis dan udah lama juga ga ngepost, gue copas aja ke sini kali yak hahaha. Tulisan ini sih pemikiran gue saat Natal 2 bulan lalu. Yawes, langsung aja.

Natal tahun ini datang di saat yang tepat. Loh kok? Bukannya Natal dari tahun ke tahun tetap tanggal 25 Desember?

Hampir setiap tahun, beberapa hal yang sering diperbincangkan adalah mengenai mengucapkan "selamat hari Natal", atribut-atribut Natal, kontroversi penetapan tanggal Natal, dan lainnya. Gak jarang hal hal itu ditemukan, khususnya di media sosial.

Namun, tahun ini agak berbeda. Situasi sosial masyarakat Indonesia khususnya mengenai SARA agak memanas akhir akhir ini. Tak perlu saya jelaskan apa saja karena teman teman yang mengikuti perkembangan beritanya pasti tau. Bisa dibilang, Indonesia (menurut saya) saat ini sedang mengalami krisis multidimensional, yaa terlepas dari keyakinan dan kepercayaan dari berbagai pihak yang berbeda beda.

Oke, kembali soal Natal. Salah satu hal yang paling saya nikmati dalam sebuah ibadah Natal adalah momen pembagian lilin Natal yang biasanya diiringi lagu "Malam Kudus" ataupun "O Holy Night". Ada makna begitu dalam dari momen tersebut. Cahaya dari lilin yang biasanya berada di altar dilambangkan sebagai cahaya dari Kristus kemudian cahaya tersebut dibagikan ke orang lain, dan orang lain tersebut membagikannya ke orang yang lainnya sampai semua lilin yang dipegang menyala. Ya, lilin yang menyala di antara kegelapan (biasanya lampu ruangan dimatikan). Cahaya yang dari Kristus yang menerangi dunia gelap dan dibagikan ke orang orang dimana orang itu juga bisa menerangi dunia yang gelap.

Lantas apa hubungannya dengan pernyataan paling awal dari tulisan saya ini? Bisa dibilang dunia sedang mengalami kegelapan, khususnya Indonesia, lebih khususnya lagi di pokok bahasan "multidimensional". Banyak orang yang malah terpecah dikarenakan pemahaman radikal tentang agama yang disangkutpautkan dengan negara. Dan di saat saat itu datanglah momen Natal, bisa dibilang di saat yang tepat. Lantas, umat Kristiani yang merayakan Natal, kelahiran Sang Juruslamat, Raja Damai, seharusnya bisa membagikan cahaya yang didapatkan dari setiap momen Natal tersebut. Di tengah situasi yang ada, kiranya dapat menjadi terang yang menerangi sesama dan juga dunia.

Akhir kata, selamat Natal untuk umat Kristiani dan selamat berlibur untuk yang lainnya. Salam kasih, harapan dan damai Natal. Tuhan memberkati.
P.S. Awalnya saya agak kecewa dengan cuaca di Jakarta karena biasanya bulan Desember identik dengan hujan. Puji Tuhan, 2 hari terakhir tanggal 25 dan 26 Jakarta hujan hehe.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inilah Magradikaku, Awal Dari Kampusku

Kangen