Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Futsal Sore

Sedikit bercerita tentang hari ini mengenai kebahagiaan yang sederhana. Jadi, gue tadi futsalan sepulang kerja. Yaa beruntungnya emang kantor gue punya fasilitas lapangan futsal dan tentunya gratis. Mayan buat anak kosan hahaha. Gue sebenernya biasa futsal sekali seminggu, walaupun tetep aja skill gitu gitu standar. Tapi, ada yang berbeda dari futsal futsal yang lain yang biasa gue mainin. Futsal sore emang jarang buat gue karena selama mahasiswa dulu (dan sampe sekarang) biasanya futsalan tengah malam menuju dinihari. Kebahagiaan sederhana yang bisa gue dapat waktu selesai futsal ditentukan dengan adzan maghrib. Kalo udah adzan, tandanya selesai. And you know, it feels like home. Waktu kecil dulu maenan bola sore-sore di lapangan tanah liat seadanya, nyeker dan make bola plastik yang mudah pecah. Belum lagi kalo yang punya bola ngambek. Wadaww bahaya itu karena artinya permainan bisa selesai sebelum adzan maghrib. Dan kalo pun udah pulang kemungkinan besar bakal dimarahin ora...

Sama-sama Bersama

Well, manusia sangat sulit untuk memprediksi bagaimana semesta bekerja, termasuk dalam hal pertemuan dengan seseorang dalam hidup kita. Terkadang manusia berusaha keras untuk pertemuan tersebut menjadi "sesuatu" tapi jika semesta berkata "tidak", manusia bisa apa? Kadang juga semesta bekerja tidak teratur meski sebenarnya ketidakteraturan itu teratur. Anyway, manusia tentunya akan sangat senang kalau ada sebuah pertemuan yang memiliki banyak kesamaan antara dirinya dan hal yang ia temui itu. Dalam teori psikologi, Miller and Perlman (2009) mengemukakan bahwa sangat menyenangkan ketika kita menemukan orang yang mirip dengan kita dan saling berbagi asal usul, minat, dan pengalaman yang sama. Semakin banyak persamaan, semakin mereka saling menyukai. Yaa, memang hal yang sama itu gak semuanya positif. Bisa jadi beberapa hal sama yang ditemui adalah hal negatif. Kembali lagi, semesta dalam ketidakteraturannya bekerja secara teratur, termasuk dalam kesamaan hal p...

Saya Kristen, Saya Indonesia, Saya Pancasila

S ecara etimologi, Pancasila berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu “panca” yang berarti lima dan “sila” yang berarti dasar. Sehingga, secara umum Pancasila berarti “lima dasar”. T anggal 1 Juni kemudian diperingati menjadi hari lahirnya Pancasila, yaitu ketika Bung Karno menyampaikan lima gagasannya mengenai dasar Negara Indonesia merdeka. Kemudian, pada 18 Agustus 1945, sehari setelah Indonesia merdeka, Pancasila ditetapkan sebagai dasar negara dengan terdapat perubahan di dalamnya yaitu pada sila pertama. Mulanya sila pertama adalah ”Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” yang kemudian diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Hal itu, muncul setelah adanya usulan dari wakil-wakil dari Indonesia Timur. Pancasila kemudian semakin tegas dinyatakan sebagai dasar negara di dalam Pembukaan UUD 1945. P ancasila menjadi pemersatu di tengah-tengah keberagaman bangsa Indonesia, termasuk juga sesuai dengan ajaran-ajaran Kristiani. Jika dibagi menja...

Tidakkah kita sadar?

Tidakkah kita sadar agama itu pada dasarnya adalah untuk kebaikan, bukan untuk memecah belah? Tidakkah kita sadar pelangi tidak akan indah jika hanya satu warna saja? Tidakkah kita sadar bahwa pada dasarnya manusia itu diciptakan pada awalnya berbeda, Adam dan Hawa berbeda, setidaknya perbedaan di gender? Tidakkah kita sadar bahkan dalam satu rumah pun pasti akan ada perbedaan? Tidakkah kita sadar manusia adalah manusia dan Tuhan adalah Tuhan? Ketika manusia ingin mencoba menjadi Tuhan akan manusia yang lain, menganggap yang satu benar dan yang satu salah. Tidakkah kita sadar bahwa Indonesia itu beragam suku, budaya, agama dan keragaman lainnya? Tidakkah kita sadar apa yang kita lakukan itu tidak hanya berdampak ke diri kita sendiri, tidak hanya ke orang terdekat tapi juga bisa berdampak ke orang lain? Yang saya tau, banyak sekali orang-orang di luar sana yang menyerukan sebuah kata. Peace. Damai. Sementara, di sisi lain, banyak yang juga yang saling berusaha menghancu...

Jadi begini

Sebelumnya gw peringatkan kalo lu lagi butuh informasi atau opini dan berharap nemuinnya di postingan gw kali ini, maka segeralah lari, seperti lu lari dari kenyataan kalo mantan lu udah punya pacar bahkan udah ngasi surat nikah, sementara lu skripsi aja masih revisi. . Nah, ntah kenapa gw akhir-akhir ini ngerasa terlalu serius bawaan moodnya. Padahal selama ini seringan orang ngebilangin "Lu kapan seriusnya sih, Thin?" Merekanya aja yang gak tau yekan. Yaaa, mungkin lu juga sering disangka serius padahal lagi becanda atau becanda padahal lagi serius. Kalo iya, toss dulu dah! . Faktor internal dan eksternal juga sih yang pengaruhin. Faktor makin nambah usia juga sih dan makin banyak yang diserap masuk ke pikiran dan hati. "Yaelah, sok punya hati lu!" "Yaa punya lah tong, walaupun udah agak rusak tapi at least masih berfungsi dan berulang-ulang disembuhkan." (Apatuh maksudnya tuh?) . Padahal nih yaa, dulu semasa masih usia belasan mudah yekan ...

Lihat Lebih Dekat

Gambar
Seharusnya kita bisa lihat lebih dekat semua peristiwa akhir-akhir ini yang terjadi melibatkan sangat banyak orang di negri ini. Bisa dikatakan hampir serempak setelah sekian lama muncul orang-orang yang sangat berdampak, baik berdampak baik dan buruk, yang berpahaman jernih dan kusam, berbuah manis dan asam, berdasarkan kebenaran yang nyata dan semu, energi positif dan negatif. . Seharusnya kita bisa lihat lebih jelas bagaimanakah sebenarnya manusia itu. Ada manusia yang berkeinginan kasih terhadap sesamanya, ada pula sebaliknya yang menyerang membombardir demi kepentingan golongannya. Ada banyak manusia yang berniat membangun sesamanya, namun tak kalah banyak juga yang berniat memakai sesamanya demi kepentingan pribadi. . Seharusnya kita bisa lihat kembali bagaimana awal dari negeri ini ada. Devide et impera akhirnya hancur oleh kesatuan dalam pluralisme. Dasar negara yang kemudian secara jelas menyatakan pluralisme itu. Hingga pada akhirnya deklarasi kemerdekaan membuka...

Nemo

Gambar
Well, siapa sangka bocah kecil dalam foto ini menjadi fenomena di beberapa tahun terakhir di Indonesia. Dia etnis Cina, beragama minoritas pula. Minoritasnya kuadrat. . Bocah kecil ini pula yang di usia dewasanya membuatku (dan banyak muda-mudi lainnya) mengandrungi politik. Padahal lebih enak kan ya ngomongin Matematika, Fisika, Kimia dan antek-anteknya apalagi Statistik (gak juga sih) . Bocah ini yang orang kenal sebagai nama "Ahok" kemudian menjadi pemimpin sebuah kota, provinsi yang jadi pusat pemerintahan Indonesia. Gila, dia minoritas kuadrat cuy! Sejak awal kemunculannya di DKI Jakarta udah banyak tanggapan, tentunya ada juga tanggapan dari golongan "itu". Banyak badai datang, tapi syukur kepada Tuhan dasar kuat daripadanya ada dalam Yesus Kristus. Filipi 1:21 pun nyata. Secara nyata juga dia menjadi kitab terbuka yang orang-orang baca melalui kehidupannya. . Pada akhirnya, dia "tumbang" oleh kasus Kep. Seribu yang sudah orang banyak tau ...

Hujan Tak Selalu Damai

Untuk seorang pengidap kelainan pluviophile sepertiku, hujan sangat bisa memberi kelegaan dan ketenangan pikiran. Dan juga mungkin sebagian orang mengalaminya walau kadarnya tidak sebanyak yang ku alami dan pengidap pluviophile lainnya. Hujan, kadang justru tidak menghadirkan kedamaian, malah kadang menghadirkan resah. Seseorang yang sedang terjebak macet saat perjalanan pulang karena jalanan yang terhambat genangan air kala hujan yang turun saat tentu akan merasakan keresahan itu. Apalagi jika seseorang tersebut sudah memiliki seseorang yang telah menanti di destinasi kepulangannya dan ingin segera bertemu. Belum lagi jika hari hari yang dilaluinya saat itu begitu berat dan memerlukan senyuman dari orang yang dia segera dapatkan di rumah. Hujan juga tidak akan memberikan rasa damai untuk mereka yang berada di daerah rawan luapan sungai. Apalagi jika hujan yang menghampiri tak ringan dan tak sebentar. Rasa was was dan khawatir menghinggap di balik tatapan orang orang itu terha...

Natal 2016

Di suatu pagi, gue iseng buka blog gue dan baru nyadar ternyata udah lumayan lama gue ga ngepost. Maklum, rada (sok) sibuk heuheu. Sebenernya gue sempat nulis panjang di facebook gue. Terus karena lagi ga ada bahan untuk nulis dan udah lama juga ga ngepost, gue copas aja ke sini kali yak hahaha. Tulisan ini sih pemikiran gue saat Natal 2 bulan lalu. Yawes, langsung aja. Natal tahun ini datang di saat yang tepat. Loh kok? Bukannya Natal dari tahun ke tahun tetap tanggal 25 Desember? Hampir setiap tahun, beberapa hal yang sering diperbincangkan adalah mengenai mengucapkan "selamat hari Natal", atribut-atribut Natal, kontroversi penetapan tanggal Natal, dan lainnya. Gak jarang hal hal itu ditemukan, khususnya di media sosial. Namun, tahun ini agak berbeda. Situasi sosial masyarakat Indonesia khususnya mengenai SARA agak memanas akhir akhir ini. Tak perlu saya jelaskan apa saja karena teman teman yang mengikuti perkembangan beritanya pasti tau. Bisa dibilang, Indonesi...