Hujan Tak Selalu Damai
Untuk seorang pengidap kelainan pluviophile sepertiku, hujan sangat bisa memberi kelegaan dan ketenangan pikiran. Dan juga mungkin sebagian orang mengalaminya walau kadarnya tidak sebanyak yang ku alami dan pengidap pluviophile lainnya.
Hujan, kadang justru tidak menghadirkan kedamaian, malah kadang menghadirkan resah. Seseorang yang sedang terjebak macet saat perjalanan pulang karena jalanan yang terhambat genangan air kala hujan yang turun saat tentu akan merasakan keresahan itu. Apalagi jika seseorang tersebut sudah memiliki seseorang yang telah menanti di destinasi kepulangannya dan ingin segera bertemu. Belum lagi jika hari hari yang dilaluinya saat itu begitu berat dan memerlukan senyuman dari orang yang dia segera dapatkan di rumah.
Hujan juga tidak akan memberikan rasa damai untuk mereka yang berada di daerah rawan luapan sungai. Apalagi jika hujan yang menghampiri tak ringan dan tak sebentar. Rasa was was dan khawatir menghinggap di balik tatapan orang orang itu terhadap hujan. "Kalau banjir lagi, bakal mengungsi dimana ya?" Begitulah mungkin satu dari sekian kalimat monolog yang muncul di pemikiran mereka. Belum lagi mereka sudah harus bergegas dengan barangnya ke tempat yang tidak akan terjangkau genangan air keruh yang akan memasuki kediaman, walau memang belum pasti namun mereka seakan "optimis" akan hal itu. Tentunya optimis di sini bukanlah sesuatu yang mendamaikan.
Satu hal lain yang juga kadang menjadi efek dari kebelumtentuan rasa damai dari hujan adalah kala seseorang yang menantikan di rumah. Hujan deras bersama dengan kilat dan guntur sementara malam sudah setengah berlalu. Belum lagi jika keadaan listrik mesti dipadamkan. Seseorang di rumah tersebut, katakanlah ia seorang ibu/ayah yang menantikan anaknya pulang, seorang istri yang menantikan suaminya pulang, seorang anak sulung yang menantikan ibu/ayahnya pulang sementara adik adiknya sudah terlelap, dan mereka dalam status lainnya yang menantikan, atau lebih tepatnya mencemaskan kepulangan dari orang yang mereka ingin segera kembali ke rumah, kala hujan turun.
Belum lagi contoh lain yang sering keliatan adalah hujan kala evakuasi. Ah, jujur ku sangat takut akan hal itu. Namun, bukankah sering kita liat saat tim evakuasi dan relawan berjuang, di situ jugalah hujan deras datang. Lantas, masihkah ada kedamaian di saat itu?
Ah, itulah hujan. Ku mencintainya, tapi juga ku tidak bisa terlalu larut akan cinta itu, karena ketika kecewa datang oleh karenanya, rasa kecewa itu dapat menjadi semakin terasa. Namun, bukankah memang setiap hal di dunia ini tidak ada yang sempurna? Ya, termasuk dia, hujan.
Komentar
Posting Komentar