Tentang Memberi
Aku adalah tipe orang yg
sangat menghindari memberi sesuatu kepada pengemis. Gatau ya hal yang terpikirkan di awal adalah aku ngga mau menjadikan para pengemis itu seorang peminta yang manja tanpa harus berusaha. Yaa walaupun sebenernya tergantung kondisi si pengemisnya itusih, apalagi kalau dia itu orang yang masih sehat dan malah keliatan masih punya kemampuan untuk bekerja, tapi malah lebih memilih meminta-minta.
Yaa emang sih kalo kata orang kalo mau memberi yaa beri aja, masa iya mikir mikir. Cuma ya itu, konsep kerja keras harus tetap dipegang dan diterapkan. Mungkin juga orang berpikir "Apalah arti uang kecil yang dikasih itu." Tapi balik lagi, memberi ke orang seperti kondisi yang ku bilang itu menurutku kuranglah tepat. Memberi itu baik, namun alangkah lebih baik lagi jika memberi ke orang yang tepat dengan tetap menjaga pola pemikiran dan perilaku masyarakat supaya tidak "manja" dengan pemberian tanpa usaha. Lagian, banyak kok cara kita memberi menolong orang yang membutuhkan, tentunya yang tepat sasaran.
Namun, lain halnya ketika kita memberi kepada orang yang sudah berusaha. Misalnya, ada kakek tua yang masih tetap berusaha mendagangkan sesuatu, yang sebenernya ga terlalu dibutuhkan di zaman sekarang, katakanlah sesuatu itu amplop dimana saat ini sangat sedikit orang yang masih memakai surat sebagai alat komunikasi. Ketika berbicara dengan kakek tua itu ternyata yang menjadi pembeli pertama adalah kita, padahal saat itu sudah sore dimana si kakek sudah berjualan sejak pagi.
Apresiasi tinggi untuk kasus yang seperti itu, selain pelajaran moral yang didapat dari etos kerja si kakek yang tetap berusaha, dibandingkan mengemis, menjual barang yang sebenarnya untungnya tidak seberapa. Nah, kita bisa menjadikan kasus seperti itu sebagai salah satu "celah" untuk memberi.
Banyak sebenarnya contoh kasus lain yang mirip dengan kasus tersebut. Di luar sana banyak orang yang seharusnya sudah beristirahat, atau misalnya orang yang terbatas dalam fisik, namun tetap berusaha menghindari mengemis. Aku pernah juga nonton video di youtube mengenai seorang pembeli yang memaki penjual minuman kecil dikarenakan harga jualannya yang agak mahal dari yang biasanya. Kemudian si pembeli tadi pergi ke toko minuman, katakanlah st*rb*cks yang sama sama kita tau lebih mahal sambil pamer ke penjual kecil tadi. Bukan, bukan aku mengatakan untuk ngga membeli minuman di toko sejenis tersebut. Tapi poinnya di sini adalah si penjual kecil tersebut tentunya mendapat pemasukan dari "harga yang lebih mahal" tersebut. Bukankah itu lebih baik daripada dia meminta minta, mengemis?
Bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk menanti pembeli di depan warungnya yang selalu sepi. Berusahalah mencari alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski mungkin kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap. Sekali lagi, bukankah itu lebih baik daripada memberi kepada pengemis yang sebenarnya masih mampu bekerja? Bukankah itu juga bentuk respek terhadap orang tersebut yang tetap memilih berusaha, setidaknya menjual sesuatu sebagai feedback?
Yah begitulah, sedikit pemikiran dariku mengenai memberi. Agak random sih apalagi bahasa yang dipake agak kaku gitu hahaha. Sekedar menumpahkan apa yang di pikiran di tulisan ini hehe
sangat menghindari memberi sesuatu kepada pengemis. Gatau ya hal yang terpikirkan di awal adalah aku ngga mau menjadikan para pengemis itu seorang peminta yang manja tanpa harus berusaha. Yaa walaupun sebenernya tergantung kondisi si pengemisnya itusih, apalagi kalau dia itu orang yang masih sehat dan malah keliatan masih punya kemampuan untuk bekerja, tapi malah lebih memilih meminta-minta.
Yaa emang sih kalo kata orang kalo mau memberi yaa beri aja, masa iya mikir mikir. Cuma ya itu, konsep kerja keras harus tetap dipegang dan diterapkan. Mungkin juga orang berpikir "Apalah arti uang kecil yang dikasih itu." Tapi balik lagi, memberi ke orang seperti kondisi yang ku bilang itu menurutku kuranglah tepat. Memberi itu baik, namun alangkah lebih baik lagi jika memberi ke orang yang tepat dengan tetap menjaga pola pemikiran dan perilaku masyarakat supaya tidak "manja" dengan pemberian tanpa usaha. Lagian, banyak kok cara kita memberi menolong orang yang membutuhkan, tentunya yang tepat sasaran.
Namun, lain halnya ketika kita memberi kepada orang yang sudah berusaha. Misalnya, ada kakek tua yang masih tetap berusaha mendagangkan sesuatu, yang sebenernya ga terlalu dibutuhkan di zaman sekarang, katakanlah sesuatu itu amplop dimana saat ini sangat sedikit orang yang masih memakai surat sebagai alat komunikasi. Ketika berbicara dengan kakek tua itu ternyata yang menjadi pembeli pertama adalah kita, padahal saat itu sudah sore dimana si kakek sudah berjualan sejak pagi.
Apresiasi tinggi untuk kasus yang seperti itu, selain pelajaran moral yang didapat dari etos kerja si kakek yang tetap berusaha, dibandingkan mengemis, menjual barang yang sebenarnya untungnya tidak seberapa. Nah, kita bisa menjadikan kasus seperti itu sebagai salah satu "celah" untuk memberi.
Banyak sebenarnya contoh kasus lain yang mirip dengan kasus tersebut. Di luar sana banyak orang yang seharusnya sudah beristirahat, atau misalnya orang yang terbatas dalam fisik, namun tetap berusaha menghindari mengemis. Aku pernah juga nonton video di youtube mengenai seorang pembeli yang memaki penjual minuman kecil dikarenakan harga jualannya yang agak mahal dari yang biasanya. Kemudian si pembeli tadi pergi ke toko minuman, katakanlah st*rb*cks yang sama sama kita tau lebih mahal sambil pamer ke penjual kecil tadi. Bukan, bukan aku mengatakan untuk ngga membeli minuman di toko sejenis tersebut. Tapi poinnya di sini adalah si penjual kecil tersebut tentunya mendapat pemasukan dari "harga yang lebih mahal" tersebut. Bukankah itu lebih baik daripada dia meminta minta, mengemis?
Bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk menanti pembeli di depan warungnya yang selalu sepi. Berusahalah mencari alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski mungkin kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap. Sekali lagi, bukankah itu lebih baik daripada memberi kepada pengemis yang sebenarnya masih mampu bekerja? Bukankah itu juga bentuk respek terhadap orang tersebut yang tetap memilih berusaha, setidaknya menjual sesuatu sebagai feedback?
Yah begitulah, sedikit pemikiran dariku mengenai memberi. Agak random sih apalagi bahasa yang dipake agak kaku gitu hahaha. Sekedar menumpahkan apa yang di pikiran di tulisan ini hehe
Komentar
Posting Komentar