Teri Medan, Sebuah Ikatan dan Sebuah Harapan
Ikan teri ini adalah sesuatu yg berharga buatku karna ini adalah buatan mamaku. Ya, sebenarnya biasa saja. Tapi akan menjadi tak biasa ketika ikan teri ini juga merupakan pengingat sekaligus "rasa dari rumah" yang ga langsung hilang. Begitulah, ketika kau nyaman pada suatu kondisi, kau tak akan rela untuk meninggalkannya. Namun, hidup ini adalah soal perpindahan bukan? Setiap hari, setiap jam, bahkan mungkin setiap saat kita berpindah, baik dalam bentuk tubuh kita keseluruhan ataupun sel-sel yang membentuknya.
Balik lagi soal ikan teri. Mungkin sebagian orang berpikir "Apasih istimewanya ikan teri itu? Toh juga banyak kan yg ngejualnya gitu di warung-warung makan ataupun restoran-restoran tradisional ternama yg bahkan lebih enak." Ini bukan cuma soal rasa, tapi juga soal ikatan. "Lah kenapa bisa sampai ikatan?" Terkadang, aku berpikir, kita gak bisa mendefinisikan ikatan seseorang dgn yg lainnya secara utuh, kecuali orang itu sendiri (dan Tuhan) yang tau. Begitu pula dengan ikan teri ini, yang juga menggambarkan ikatan yang masih terjalin melalui "media" antara ibu dan anak, setidaknya sampai ikan teri tersebut habis. Tentunya ikatan tersebut tak akan habis sebab masih ada media-media lain yang menghubungkannya.
Kejadian itulah yang juga sempat terjadi di hari aku harus meninggalkan Medan, kembali ke Jakarta, tanah perantauan dimana disitulah aku "ber-guru tinggi", setelah cukup lama berlibur di rumah. Ya rumah, tempat kau bisa merasakan kenyamanan dengan semua kondisi yang ada di dalamnya. Ketika aku ngebuka bekal untuk makan malam (karna disitu jadwal penerbanganku malam), langsunglah terlihat makanan yang dibuat oleh mamaku. Yaa sebagaimana orang seperti biasanya, pastilah langsung lahap memakannya apalagi kalau sedang lapar. Tapi, saat itu beda. Aku cuma bisa menatap dan merasakan sepertinya "hujan" dari indra penglihatanku bakal datang. Langsung aja aku menutup kembali makanan itu dan pergi ke kamar mandi. Menangis di dalamnya.
Bukan, bukan berarti aku sedih (yaa harus diakui sedikitlah), tapi ini adalah tangisan haru. Haru dengan teringat semua hal yang telah aku lalui, terkhusus selama libura yang baru aja kulalui. Banyak pengalaman yang kudapat selama berada di rumah di Medan ataupun di kampung di Samosir. Pengalaman bagaimana orang-orang yang menaruh banyak harapan ke aku.
Yaa seperti itulah. Bisa dikatakan harapan yang kupikul cukup berat. Aku terlahir dan besar kemudian kuliah dari keluarga bapak dan mamak yang belum banyak bisa berkuliah. Dan kemudian muncullah aku, yang dimana Puji Tuhan bisa berkuliah di kedinasan, yang notabene dibiayai pemerintah, diberi uang saku yang cukup, dan akan ditempatkan bekerja. Suatu karunia tersendiri yang kuterima dariNya, terlepas juga dari usahaku belajar menggapainya. Tapi ya sekali lagi, penekanan adalah pada karunia, anugrah daripadaNya.
Ketika aku lulus di sekolah tinggi kedinasan tersebut, banyak orang yang memberi selamat ataupun "mengomongi" dari belakang. Yaa beberapa yang terdengar olehku mengatakan "Waah hebat yaa dia." Beberapa kali terlintas padaku kesombongan, kebanggaan diri. Tapi kemudian, hal tersebut perlahan pudar, malah tergantikan sebuah beban tersendiri. Beberapa orang tersebut juga memiliki harapan padaku, yaaa terutama kalangan terdekatku, keluarga inti maupun sanak famili lainnya. Aku merasa terbebani, berpikir "Apa iya sebesar ini mereka memiliki harapan padaku? Apa aku bisa menjadikan harapan mereka itu nyata?" Dan malah sempat terjadi pesimis, ujung-ujungnya mengarah ke ketakutan gagal menjadi harapan tersebut.
Sejenak, aku berpikir, merenung mengenai hal tersebut. Dan kemudian dalam lamunanku tersebut, terbersit kutipan dari Alkitab "Pengharapan tidak akan mengecewakan." Benar memang tidaklah baik mengutip isi kitab suci secara setengah-setengah, namun pernyataan itu merupakan suatu pernyataan yang meneguhkan bagiku. Terlebih lagi setelah aku mencarinya, kelanjutan dari pernyataan tersebut dalam satu perikop yang utuh, semakin memberiku keteguhan dalam "memikul" harapan tersebut.
Kemudian sejenak aku merenung kembali mengenai harapan tersebut. Apakah mereka tanpa alasan memberi harapan tersebut? Apakah benar aku yang adalah harapan mereka? Kemudian terbersit lagi olehku. "Bukan, bukan kau yang menjadi harapan mereka. Kau hanya sebagian dari harapan mereka. Karna mereka pengharapan mereka hanyalah dari Tuhan dan kepada Tuhan. Stop overthinking. Perasaan sombong dan khawatir bercampur. Hentikan itu. Mulailah kembali berserah, bersyukur, dan memohon kekuatan daripadaNya. Memang sering kau mengecewakanNya, tapi Dia sendiri adalah maha kasih. Sekarang adalah bagaimana kau bisa menyadari betapa besar dan banyaknya karunia, anugerah yang daripadaNya, dan kemudian kau juga berusaha semaksimal mungkin, tentunya dengan tetap mengandalkanNya."
Perenungan yang terjadi saat itu dan juga sampai saat ini ketika aku menulis cerita ini. Bagaimana pada akhirnya fokus bukan lagi ke aku, aku dan aku melainkan ke Dia. Memang berat, karna daging dan keberdosaan yang masih sering kali muncul. Dan hal tersebut tak lain dan tak bukan adalah sebuah proses seumur hidup.
Yah begitulah, cerita yang jadi panjang padahal bermula dari ikan teri hahaha. Mengutip kata-kata orang lain. "Home is the place when you feel comfort, warm, loved, and many more with your family." (Sebenernya ini kata-kataku sendiri sih yang dengan susah payah merangkainya dalam bahasa inggris sederhana karna keterbatasan kosakata juga hahaha)
Okedeh semoga tulisan ini bisa menjadi berkat buat siapapun kalian yang membacanya. God bless u all
Komentar
Posting Komentar