In The End

Bukan. Gue bukan mau ngebicarain soal lagu Linkin Park yang dulu ada sebelum generasi Millenial tumbuh kayak sekarang ini. Jadi, lagi pengen ngebahas tentang "Akhir". Everybody knew you're liar. Damn, bukan itu. Everybody knew semua yg ada di dunia ini gak ada yang abadi, semua memiliki akhir. Wait, kalian pasti mikirnya gue bakal nyinggung lagu Peterpan. Hahaha. Yaa nggalah. Cukup 3gpnya mas Ariel aja yang dulu disinggung. Iya, 3gp video klip lagunya utk diplay di HP Nokia Ngage yang melegenda itu. HAHA!

Kampret dah. Kebiasaan kalo nulis gagal fokus gini. Oke, tadi rencana ngebahas akhir yak. Serius deh serius. Semua hal di dunia ini memang pada akhirnya mencapai akhir. Mz Gaga dan Mba Awkarin aja yang ngalah-ngalahin Mr. and Mrs. Smith hubungan asmaranya udah berakhir. Makanya si pemeran Mr. and Mrs. Smith juga ikut-ikutan mengambil jalan akhir dari kisah rumah tangga mereka. Dan kemudian para generasi Millenial dan generasi 90an yg ngefans dengan 2 pasangan ini juga mungkin sedih. Kasihan. Sabar yaa, terutama generasi 90an yang sampe saat ini belum dapat momongan. Ya iyalah belum, wong "meranjang" secara resmi agama dan adat aja belum. Hiks, kita sama kok.

Eh, kampret. Beneran dah. Oke, oke kalem. Let's be more serious. Tentang akhir. Kata orang (kataku juga sih), memulai dan mengakhiri itu yang paling sulit dari sebuah cerita. Kalo memulai sulitnya adalah soal realisasi niat, mengakhiri sendiri sulitnya adalah ketika harus berhadapan dengan keadaan, kondisi, realita dan waktu (oke, keempatnya mirip, mubazir, jangan ditiru ya) yang "memaksa" sebuah cerita harus berakhir.

Seringkali si pemeran dalam cerita sebenernya ngga mau untuk mengakhiri. Karna, sebenernya terlepas dari gimana kondisi dari akhir cerita itu, baik sad ending ataupun happy ending, selalu ada terselip rasa sedih di dalamnya. Yak, happy ending bisa aja ada kesedihan di dalamnya, terlepas dari kadar kesedihan tiap-tiap orang yang beda. For example, hari terakhir UN dan hari perpisahan SMA. Kalian-kalian yg udah ngerasain kemungkinan setuju dengan statement gue di atas. Lu, gue pasti seneng dong kan ya akhirnya selesai juga masa-masa "indah" dengan Mafia (Matematika, Fisika, Kimia). Oh iya, bukan maksud diskriminasi yak. Gue SMA jurusan IPA, jadi yaa mbak mbak mas mas yang jurusan IPS ataupun SMK dimohon menyesuaikan. Tapi dibalik realita di atas, sebenernya lu juga kemungkinan besar ada rasa sedih dong yaa bakal berpisah dengan "kampret-kampret" yang mengisi masa SMA mu.

Nah itu cuma satu contoh, masih banyak contoh lain yang bisa dijadikan contoh (Yak. Betul.) Gue ga bakal ngebahas soal kisah cinta anak muda maupun yang masih merasa muda. Sudah cukup banyaklah yang ngebahas itu dan udah cukup banyaklah yang lu, pembaca cerita ga penting gue ini, alami tentang akhir cerita cinta. Udah terlalu banyak lagu juga yang ngebahas tentang itu. Dan sudah terlalu menyakitkan untuk para jomblo yang masih mencari siapa orang yang akan mengakhiri cintanya dalam kematian. Hiks.

Intinya adalah gue bentar lagi harus "mengakhiri" masa-masa liburan gue di rumah, yang kata salah satu caption temen gue di ig "Rumah akan menjadi semakin rumah ketika ditinggalkan" dan harus kembali ke Jakarta dengan segala hal yang mesti dikerjakan. Seperti biasa, sendu, pasti. Selalu bahkan, di tiap akan kembali ke Jakarta ada perasaan itu. Dan hal itu juga yang kadang membuatku berpikir apakah harus pulang ke rumah, karna yaa alurnya selalu begitu. Tapi, hidup itu adalah tentang cerita yang berpindah dari satu cerita ke cerita yang lainnya, bukan? Mari mengakhiri setiap cerita di dalamnya dengan baik. Lagian kan, setiap kita ini adalah bagian cerita dari ceritaNya yang besar, bukan?

Oh iya, satu statement lain. Kata "pulang" ngga akan pernah berubah, pulang ke Medan, pulang ke rumah. See you soon!
Foto ini pas pulkam 2 minggu lalu. Jadi, sebenernya itu bukan rumah di Medan hehe.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inilah Magradikaku, Awal Dari Kampusku

Kangen

Natal 2016